Menu
kabar terbaru hari ini

Gagal Bayar Obligasi, Bos Evergrande di Bawah Pengawasan Polisi

  • Share
Gagal Bayar Obligasi, Bos Evergrande di dalam Bawah Pengawasan Polisi

Konglomerat sekaligus pendiri raksasa properti   dilaporkan berada pada dalam bawah pengawasan polisi buntut perusahaan gagal bayar obligasi sesuai waktu yang digunakan yang disebut ditentukan.

Hal ini menimbulkan keraguan lebih tinggi besar lanjut mengenai masa depan perusahaan pengembang properti hal yang disebut dalam tengah krisis sektor properti dalam China.

Dilansir dari Reuters, Rabu (27/9), Hui sudah dibawa pergi oleh polisi sejak awal bulan kemudian diawasi secara ketat di dalam tempat sebuah lokasi yang dimaksud dimaksud ditentukan. Hal itu diungkapkan oleh sumber yang tersebut dimaksud mengetahui permasalahan ini.

Evergrande adalah pengembang yang mana paling banyak berutang di dalam dalam dunia dengan total kewajiban lebih tinggi tinggi dari US$300 miliar juga telah dilakukan lama menjadi pusat krisis likuiditas yang itu belum pernah terjadi sebelumnya di tempat area sektor properti China.

Belum jelas mengapa Hui ditempatkan di dalam area bawah ‘pengawasan rumah’. Adapun, tindakan hal itu merupakan jenis tindakan yang tersebut dimaksud tak termasuk dalam penahanan atau penangkapan formal. Penangkapan ini juga bukan berarti Hui akan didakwa melakukan kejahatan.

Laporan tindakan terhadap Hui muncul usai polisi pada tempat China Selatan mengatakan pada awal bulan ini dia telah terjadi lama menahan beberapa staf pada unit manajemen kekayaan Evergrande, yang mana itu menghimpun dana dari pemodal perorangan dengan mengirimkan item investasi.

Kendati pernah menjadi pengembang terlaris pada area China, krisis keuangan Evergrande mulai diketahui rakyat sejak 2021.

Sejak saat itu, Evergrande lalu beberapa perusahaan sejenisnya gagal membayar kewajiban utang luar negeri dalam tengah melambatnya jualan rumah juga lebih banyak lanjut sedikitnya jalan baru untuk penggalangan dana.

Tak belaka itu, rencana restrukturisasi utang luar negeri Evergrande tampaknya akan goyah lalu prospek perusahaan dilikuidasi semakin menguat.

Kelompok kreditur luar negeri utama Evergrande berencana untuk bergabung dengan petisi pengadilan likuidasi yang mana diajukan terhadap pengembang itu jika raksasa properti itu tiada mengajukan rencana restrukturisasi utang baru pada akhir Oktober mendatang.

Rencana itu muncul setelah perusahaan itu mengguncang pasar dengan pengumumannya bahwa dia tidaklah dapat menerbitkan obligasi baru sebagai bagian dari rencana restrukturisasi utangnya, lantaran investigasi regulator terhadap unit utamanya pada China, Hengda Real Estate.

Hengda, dalam pengajuan terpisah, mengatakan bahwa mereka telah lama dijalani gagal membayar pokok kemudian juga bunga obligasi senilai 4 miliar yuan atau sekitar Rp8,4 triliun yang jatuh tempo pada 25 September silam.

Sementara itu, saham Evergrande berakhir turun 19 persen pada Rabu (27/9). Sementara, indeks yang dimaksud dimaksud melacak pengembang itu yang digunakan terdaftar dalam Hong Kong turun 0,2 persen.

Kabar Evergrande gagal membayar obligasi pun kembali mengguncang para investor. Mengutip CNN, merekan itu resah dengan nasib raksasa properti ini setelah perusahaan yang tersebut memperingatkan bahwa upaya-upaya untuk merestrukturisasi utangnya berada dalam masalah.

Peringatan hal yang disebut kemudian menimbulkan pertanyaan apakah raksasa properti ini masih dapat menyelesaikan restrukturisasi utang multi-miliar dolar yang hal tersebut sedang diawasi dengan ketat oleh para penanam modal global.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *